
Keterangan Gambar : Muktamar NU ke 29 di Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya bulan Desember 1994.
infokomnews.com - Minggu pertama Desember 1994 bukan sekadar catatan waktu—ia adalah panggung pertaruhan marwah Nahdlatul Ulama. Di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, ribuan mata menyaksikan sebuah drama besar: ketika suara ulama diuji oleh tekanan kekuasaan. Abdurrahman Wahid berdiri di tengah pusaran, bukan hanya sebagai kandidat ketua umum, tapi simbol perlawanan terhadap dominasi rezim Soeharto. Muktamar ke-29 itu menjelma menjadi lebih dari sekadar forum organisasi—ia adalah pertempuran antara keberanian dan ketakutan.
Retakan mulai tampak sejak Gus Dur menolak bergabung dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), sebuah wadah yang dianggapnya sarat kepentingan politik kekuasaan. Bagi Gus Dur, menjaga independensi NU jauh lebih penting daripada sekadar berada di lingkar kekuasaan. Sikapnya yang tegas membuatnya dicap “membangkang”, bahkan dianggap ancaman bagi stabilitas versi Orde Baru. Dari sinilah, badai itu benar-benar dimulai.
Menjelang Muktamar, operasi politik bertajuk “Asal Bukan Gus Dur” digerakkan secara sistematis. Nama Abu Hasan diangkat sebagai penantang, sementara tekanan datang dari berbagai arah. Ironisnya, gelombang penolakan juga merembet ke lingkar terdekat, termasuk Yusuf Hasyim. Fitnah, isu, hingga manuver kekuasaan berkelindan, mencoba menggoyahkan fondasi kepemimpinan Gus Dur dari dalam tubuh NU sendiri.
Cipasung pun berubah wajah. Bukan lagi sekadar pesantren, melainkan arena yang dipenuhi bayang-bayang kekuatan militer. Kehadiran aparat, intelijen yang menyamar, hingga simbol-simbol kekuasaan membuat suasana mencekam. Saat Soeharto hadir langsung membuka acara, pesan itu jelas: negara sedang mengawasi. Namun di balik tekanan itu, para kiai dan delegasi tetap memegang teguh suara hati mereka.
Ketika pemilihan berlangsung, setiap suara terasa seperti denyut nadi perjuangan. Tegang, sunyi, dan penuh harap. Hingga akhirnya, hasil itu diumumkan—Gus Dur tetap menang. Seketika, suasana pecah. Tangis haru, pelukan hangat, dan rasa lega menyatu menjadi satu momen yang tak terlupakan. Di tengah kepungan kekuasaan, suara akar rumput NU membuktikan bahwa mereka tak bisa dibeli, tak bisa ditundukkan.
Kemenangan di Cipasung bukan hanya soal jabatan, melainkan kemenangan nurani atas tekanan. Ia menjadi tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia, menegaskan bahwa kekuatan sipil tidak bisa diremehkan. Dari pesantren itu, semangat perlawanan tumbuh, mengalir hingga akhirnya ikut menggoyang fondasi Orde Baru pada 1998. Cipasung pun abadi—bukan sekadar tempat, tapi simbol bahwa keberanian selalu punya jalannya sendiri.











LEAVE A REPLY